Cari Blog Q

Kamis, 01 Januari 2015

MENYIKAPI PERUBAHAN?

"Setiap perubahan, pasti membawa korban." Opini semacam ini senantiasa mewarnai  dinamika berbagai perjalanan. Tidak jarang, opini semacam ini telah memunculkan benturan-benturan yang tidak jelas . Tidak jelas rumusan masalah maupun solusinya.
Kita tidak perlu takut dengan pengorbanan itu, karena sejatinya tidak ada yang dikorbankan dalam meniti dan merangkai perubahan itu. Kalau terpaksa ada, sejatinya yang telah kita korbankan adalah perasaan kita sendiri. Perasaan tidak mau berubah.
Perubahan itu mengalir. Seperti mengalirinya air jernih di sungai. Mau tidak mau hukum alam telah menggariskan bahwa air mengalir pada tempat yang lebih rendah.
Barangkali tidak terlalu berlebihan dalam arena pojok ini kalau saya mencoba sedikit berbagi benturan terhadap bagaimana kita menyikapi perubahan itu, perubahan dalam menerima dan memahami sebuah perubahan yang  diakibatkan oleh hadirnya teknologi.
Kita ambil satu saja. Mendengar kata hape, ingatan kita sudah tertuju pada satu alat yang dapat merusak moral bangsa karena ditengarai sebagai penyebar gambar maupun video porno. Begitu buruknya citra hape. Seolah hape tidak lebih dari sebuah virus yang mematikan. Agar tidak mewabah lebih luas, mulai ada wacana membatasi pemakaiannya.
     Ada beberapa sekolah yang telah melarang siswanya membawa hape ke sekolah. Membawa hape ke sekolah dianggap pelanggaran. Barangkali sikap ini tidak salah.  Tidak salah bagi siapa?
Hape adalah benda mati. Benda mati yang dihidupkan. Karena benda mati yang dihidupkan, maka sang hape sudah barang tentu patuh pada yang menghidupkan. Siapa yang menghidupkan, ya kita sebagai pemilik kehidupan dalam hape.
     Roh hape sangat patuh dengan roh kita. Moral hape sangat tergantung dengan moral kita. Selera dan cita rasa hape juga sangat tergantung dengan selera dan cita rasa kita sebagai pemiliknya. Percayalah, hape sangat patuh dan taat dengan pemiliknya.
        Kalau sudah demikian, siapa yang harus dikorbankan?
Jawaban saya singkat: tidak ada!
Kita tidak sedang mencari kambing hitam untuk kita korbankan.
Lalu, siapa yang salah?
Jawaban saya singkat: tidak ada!


Solusinya bagaimana, tolong saya ...........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar